Islamic Centre Madiun : Digagas Sebagai Upaya Penyatuan Ummat
Written by Administrator    Wednesday, 03 February 2010 06:47    PDF Print E-mail
AHAD pagi (24 Januari), kota Madiun Jawa Timur sangat sejuk. Mendung tebal memayungi angkasa, sebagai sisa hujan yang mengguyur semalam suntuk dan berhenti menjelang subuh. Namun, cuaca tidak menjadi rintangan lebih dari seribu ummat Islam untuk menghadiri Majelis Ta’lim di halaman Islamic Centre di Jalan Sumatra.

Majelis Ta’lim Ahad pagi, satu jam dari Pk 06.00, rutin terselenggara sejak 17 tahun silam, yaitu sejak Islamic Centre Kota Madiun berdiri. Semula hanya semacam pengajian umum, kemudian menjadi bagian dari forum kajian-kajian tentang Islam. H. Achmad Sugiarta, Bendahara Islamic Centre Madiun mengungkap, menggelar Majelis Ta’lim rutin sering dihadapkan kesulitan agar jamaah tidak jenuh. Harus berupaya menyodorkan tema bahasan yang senantiasa sesuai perkembangan terkini.

“Menghadirkan Ir. Muhammad Al Khathath, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Pusat, untuk Majelis Ta’lim Ahad pagi (24 Januari) lalu, terkait upaya itu. Perkembangan paling kini, adalah masalah korupsi. Tema yang kami sodorkan, “Bagaimana Islam

menghadang Korupsi”, dan dipertimbangkan yang berbicara adalah tokoh dari Jakarta,” papar Achmad Sugiarta.

Semangat Gontor



Gagasan pendirian Islamic Centre sebagai pusat pengembangan Islam di Kota Madiun, berangkat dari tekad dan keinginan memiliki lajnah, sebagai fasilitas, yang mampu mewujudkan Ukhuwah Islamiyah dan penyatuan Ummat Islam. Penggagas dan sebagai salah seorang pendirinya adalah H. Muchsin Aly Ibrahim (Almarhum, wafat 25 April 2009). Sekitar 17 tahun silam, tepatnya Rabu, 23 Desember 1992 Islamic Centre berdiri berbentuk Yayasan. Setelah memperoleh pinjaman lokasi sebuah rumah dengan halaman luas di Jalan Dr. Sutomo, Ahad 27 Desember 1992 diselenggarakan pengajian Ahad pagi yang pertama.

Alumnus Pondok Modern Gontor Ponorogo (1948) ini, mendorong gagasan itu terwujud dengan mengusung semangat almameternya. Diantaranya; bertekad menyerahkan “Bondo Bau Fikir, Yen Perlu Sak Nyawane.” (Harta, Tenaga, Fikiran, Kalau Perlu dengan Nyawanya, Red). Termasuk pula mengusung motto Pondok Modern Gontor Ponorogo; Berdiri Di atas Semua Golongan.

Almarhum H. Muchsin Aly, saudagar juga aktivis Muhammadiyah. Jajaran Pimpinan Muhammadiyah Kota Madiun, sangat faham dengan pribadi dan semangat juang saudagar ini. Jika memiliki gagasan, tentu dibarengi tekad dan upaya mewujudkan. Karena itu, ketika gagasan mendirikan Islamic Centre itu dikemukakan, jajaran Pimpinan Muhammadiyah menyerahkan kembali dan memberi keleluasaan untuk mewujudkan.

“Benar-benar dari nol. Mewujudkan, tidak mungkin saya sendiri tanpa melibatkan semua pihak, terutama kalangan pemuda,” kata Muchsin Aly dalam sebuah kesempatan, yang sangat dikenang segenap penerus pengelola Islamic Centre Madiun.

Gagasan mendirikan Islamic Centre, sebagai lajnah untuk menyatukan ummat Islam kota Madiun, didorong kondisi ummat Islam yang sebenarnya satu, tetapi tidak pernah menyatu; hanya sebab firqah (golongan, partai politik) bahkan karena faham khilafiyah yang berbeda. Akibat perbedaan demikian (terutama masalah khilafiyah), sejak lama Ummat Islam tidak pernah dapat menyatu. Penyelenggaraan Shalat Id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha di kota Madiun, satu pihak menyelenggarakan di lapangan (termasuk stadion Wilis), pihak lain di masjid-masjid (termasuk Masjid Agung Baitul Hakim).

Penghujung dasawarsa 1970-an, Majelis Ulama Indonesia Kota Madiun, ketika itu dengan ketua H. Shaleh Hassan (mantan Bupati Madiun), berusaha menyatukan Shalat Id ini di Alun-alun Kota. Beberapa syarat harus dipenuhi. Diantaranya; Khutbah Id dilaksanakan dua khutbah layaknya khutbah Jumat. Imam dan khatib bergiliran; Demikian pula, perolehan isi kotak amal, dibagi rata untuk golongan dan organisasi.

Senyatanya, penyatuan Shalat Id, tidak sepenuhnya berhasil. Tetap saja ada Shalat Id di masjid Baitul Hakim, setelah Shalat Id di Alun-alun yang ada di depan masjid tersebut sudah bubaran. Masalah penyelenggaraan Shalat Id ---yang sebenarnya hanya Shalat Sunnat--- justru menjadi masalah besar. Terlebih, hingga sekarang, penetapan hari Id masih sering berbeda-beda, memicu penonjolan perbedaan tetap ada.

Islamic Centre, didirikan dengan berusaha tidak uthak-athik (mengutik-utik) masalah yang sensitif . Mengajak semua ummat menanggalkan atribut pembeda, ke dalam suatu lajnah, duduk bersama dalam kajian-kajian Islam. Simbol-simbol NU dan Muhammad di pasang berjajar di dinding-dinding Islamic Centre dan diantara dua simbol organisasi Islam terbesar ini, digambar pula dua tangan tengah berjabatan.

Bersemangatnya Islamic Centre untuk terwujudnya gandeng tangan antar golongan Islam. Namun, di tengah perkembangan Islamic Centre yang dicirikan semakin maraknya penyelenggaraan pengajian Ahad pagi, kalangan ummat Nahdlatul Ulama (NU) justru secara terpisah, menggelar pengajian dengan title Pengajian Tombo Ati, di Masjid Agung Baitul Hakim, pada malam hari rutin sebulan sekali.

“Kami, juga hadir di pengajian Ahad pagi Islamic Centre. Tapi, kami juga ingin memberi kesempatan ummat NU di pelosok-pelosok, yang tidak mungkin hadir setiap Ahad pagi, untuk senantiasa memperoleh siraman rohani setidaknya sekali dalam sebulan,” ungkap salah seorang pengurus Pengajian Tombo Ati.

Dari Rumah Pinjaman



Islamic Centre Madiun tumbuh dari rumah pinjaman di Jalan Dr. Sutomo. Shodaqoh dan dana wakaf terhimpun cepat, hingga mampu membeli rumah milik Moh. Kasim, ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Madiun yang juga mertua Nurcholis Madjid (Alm), yang bersebelahan lokasinya.

Ketua Islamic Centre Madiun, dr. H. Moch. Ichwan mengungkapkan, rumah pinjaman dari sebuah keluarga, di Jalan Dr. Sutomo, hanya beberapa waktu dan sudah harus dikembalikan. Sementara Islamic Centre belum memiliki lokasi pindah. Dana yang ada, tidak mencukupi untuk membeli sebidang tanah, yang di incar ketika itu, di Jalan Serayu di selatan Kota Madiun.

Untuk memindah Islamic Centre, berharap dapat memperoleh tambahan dana dengan menjual rumah yang dibeli dari Moh. Kasim. Pada saat itu, H. Muchsin Aly memecah kebuntuan. Menunjukkan sebuah sertifikat tanah seluas lebih dari 3.000 meter persegi berlokasi di tengah kota, di Jalan Sumatra, yang dinyatakan sudah dibeli, tanpa harus menjual rumah di Jalan Dr. Sutomo

“Islamic Centre segera boyongan. Kami semua tahu sebenarnya, saat itu seberapa besar dana yang dimiliki Islamic Centre. Untuk membeli lokasi di Jalan Sumatra, tanpa menjual rumah di Jalan Dr. Sutomo, jelas kurang. Tapi kami semua tidak pernah mengetahui, seberapa besar kekurangan itu,” ungkap salah seorang pengurus.

Rumah di Jalan Dr. Sutomo, akhirnya terjual, dan dipergunakan membeli rumah tepat di sebelah kanan lokasi Islamic Centre kini. Sebagian rumah ini, dipersiapkan untuk berdirinya sebuah masjid. “Pembelian rumah ini, dengan dana penjualan rumah yang dibeli dengan dana ummat. Kita semua harus mengganti. Penggantian dengan menghimpun dana wakaf, diarahkan untuk berdirinya masjid,” ungkap dr. Moch. Ichwan.

Menurut Achmad Sugiarta, dari Majelis Ta’lim setiap Ahad pagi mampu menghimpun shadaqah antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Dari himpunan dana tersebut, kini Islamic Centre Madiun tengah membangun sebuah gedung pertemuan berlantai dua, yang sudah menelan biaya Rp 1,3 Miliar dan masih diperlukan dana Rp 700 juta lagi, tidak termasuk saldo kas tunai saat ini sebesar lebih dari Rp 600 juta. Sementara himpunan dana waqaf masjid baru sekitar Rp 400 juta, diharapkan terhimpun Rp 1 Miliar. “Kami berharap dukungan semua pihak, untuk mewujudkan sebuah masjid,” kata Achmad Sugiarta.

Islamic Centre kota Madiun, dengan cikal-bakal Majelis Ta’lim Ahad pagi, Kini setelah 17 tahun, berkembang dengan berbagai kegiatan kajian tentang Islam, perpustakaan, belajar membaca Al Quran untuk semua usia, penanganan jenazah, penyelenggaraan Shalat Id, Qurban, Zakat Fitrah, Zakat Maal, bahkan gedungnya sudah beberapa kali digunakan untuk layanan akad nikah hingga resepsi pernikahan.
(Muhammad Halwan)
Trackback(0)
Comments (0)Add Comment
Write comment
 
 
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
 
 

Gallery Video

DATA INFORMASI