| Islamic Centre Madiun : Digagas Sebagai Upaya Penyatuan Ummat | ||||
|
AHAD pagi (24 Januari), kota Madiun Jawa Timur sangat sejuk. Mendung tebal memayungi angkasa, sebagai sisa hujan yang mengguyur semalam suntuk dan berhenti menjelang subuh. Namun, cuaca tidak menjadi rintangan lebih dari seribu ummat Islam untuk menghadiri Majelis Ta’lim di halaman Islamic Centre di Jalan Sumatra. ![]() Majelis Ta’lim Ahad pagi, satu jam dari Pk 06.00, rutin terselenggara sejak 17 tahun silam, yaitu sejak Islamic Centre Kota Madiun berdiri. Semula hanya semacam pengajian umum, kemudian menjadi bagian dari forum kajian-kajian tentang Islam. H. Achmad Sugiarta, Bendahara Islamic Centre Madiun mengungkap, menggelar Majelis Ta’lim rutin sering dihadapkan kesulitan agar jamaah tidak jenuh. Harus berupaya menyodorkan tema bahasan yang senantiasa sesuai perkembangan terkini. menghadang Korupsi”, dan dipertimbangkan yang berbicara adalah tokoh dari Jakarta,” papar Achmad Sugiarta. Gagasan pendirian Islamic Centre sebagai pusat pengembangan Islam di Kota Madiun, berangkat dari tekad dan keinginan memiliki lajnah, sebagai fasilitas, yang mampu mewujudkan Ukhuwah Islamiyah dan penyatuan Ummat Islam. Penggagas dan sebagai salah seorang pendirinya adalah H. Muchsin Aly Ibrahim (Almarhum, wafat 25 April 2009). Sekitar 17 tahun silam, tepatnya Rabu, 23 Desember 1992 Islamic Centre berdiri berbentuk Yayasan. Setelah memperoleh pinjaman lokasi sebuah rumah dengan halaman luas di Jalan Dr. Sutomo, Ahad 27 Desember 1992 diselenggarakan pengajian Ahad pagi yang pertama. Ketua Islamic Centre Madiun, dr. H. Moch. Ichwan mengungkapkan, rumah pinjaman dari sebuah keluarga, di Jalan Dr. Sutomo, hanya beberapa waktu dan sudah harus dikembalikan. Sementara Islamic Centre belum memiliki lokasi pindah. Dana yang ada, tidak mencukupi untuk membeli sebidang tanah, yang di incar ketika itu, di Jalan Serayu di selatan Kota Madiun. Untuk memindah Islamic Centre, berharap dapat memperoleh tambahan dana dengan menjual rumah yang dibeli dari Moh. Kasim. Pada saat itu, H. Muchsin Aly memecah kebuntuan. Menunjukkan sebuah sertifikat tanah seluas lebih dari 3.000 meter persegi berlokasi di tengah kota, di Jalan Sumatra, yang dinyatakan sudah dibeli, tanpa harus menjual rumah di Jalan Dr. Sutomo “Islamic Centre segera boyongan. Kami semua tahu sebenarnya, saat itu seberapa besar dana yang dimiliki Islamic Centre. Untuk membeli lokasi di Jalan Sumatra, tanpa menjual rumah di Jalan Dr. Sutomo, jelas kurang. Tapi kami semua tidak pernah mengetahui, seberapa besar kekurangan itu,” ungkap salah seorang pengurus. Rumah di Jalan Dr. Sutomo, akhirnya terjual, dan dipergunakan membeli rumah tepat di sebelah kanan lokasi Islamic Centre kini. Sebagian rumah ini, dipersiapkan untuk berdirinya sebuah masjid. “Pembelian rumah ini, dengan dana penjualan rumah yang dibeli dengan dana ummat. Kita semua harus mengganti. Penggantian dengan menghimpun dana wakaf, diarahkan untuk berdirinya masjid,” ungkap dr. Moch. Ichwan. Menurut Achmad Sugiarta, dari Majelis Ta’lim setiap Ahad pagi mampu menghimpun shadaqah antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Dari himpunan dana tersebut, kini Islamic Centre Madiun tengah membangun sebuah gedung pertemuan berlantai dua, yang sudah menelan biaya Rp 1,3 Miliar dan masih diperlukan dana Rp 700 juta lagi, tidak termasuk saldo kas tunai saat ini sebesar lebih dari Rp 600 juta. Sementara himpunan dana waqaf masjid baru sekitar Rp 400 juta, diharapkan terhimpun Rp 1 Miliar. “Kami berharap dukungan semua pihak, untuk mewujudkan sebuah masjid,” kata Achmad Sugiarta. Islamic Centre kota Madiun, dengan cikal-bakal Majelis Ta’lim Ahad pagi, Kini setelah 17 tahun, berkembang dengan berbagai kegiatan kajian tentang Islam, perpustakaan, belajar membaca Al Quran untuk semua usia, penanganan jenazah, penyelenggaraan Shalat Id, Qurban, Zakat Fitrah, Zakat Maal, bahkan gedungnya sudah beberapa kali digunakan untuk layanan akad nikah hingga resepsi pernikahan. (Muhammad Halwan)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 333 Trackback(0)
Comments (0)
![]() |
|
|
|
|
|
|
|







