| MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM MERAJUT PERSATUAN DAN PERSAUDARAAN | ||||
|
|
MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM MERAJUT PERSATUAN DAN PERSAUDARAAN (Catatan Festival Maulid Nusantara 5-2010 di Palu)
Provinsi Sulawesi Tengah mendapatkan kesuksesan yang luar biasa dalam menyambut estafet penyelenggaraan Festival Maulid Nusantara (FMN) V tahun 2010. Hampir sepanjang malam selama penyelenggaraan FMN dari tanggal 9-13 April 2010, halaman Masjid Agung Darussalam Palu penuh sesak dipadati oleh warga Palu. FMN V - 2010 dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden RI pada hari Jumat, 9 April 2010 dan diikuti oleh 26 provinsi di Indonesia, serta didukung oleh tidak kurang dari 800 orang delegasi dari seluruh Indonesia yang datang ke Palu untuk memeriahkan perhelatan ini. Dengan FMN ini, Provinsi Sulawesi Tengah berharap banyak agar momentum maulid Nabi SAW dapat menghapus sisa-sisa kelam daerah ini sebagai eks daerah konflik untuk kemudian diganti dengan cahaya baru yang kondusif untuk pembangunan daerah.
Dengan tema “Teladani Rasululllah SAW Merajut Persatuan dan Mempererat Persaudaraan”, Provinsi Sulawesi Tengah berharap dapat menunjukkan kepada seluruh masyarakat Nusantara bahwa maulid menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat pembangunan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah pemimpin besar yang berhasil di segala bidang, mulai dari pemerintahan hingga pertempuran. Beliau berhasil mempersatukan dan mempererat persaudaraan dari Kaum Muhajirin dan Anshor serta beragam suku bangsa di Jazirah Arab. Dengan bersatu padu, seluruh potensi positif masyarakat dapat dipersatukan untuk menggerakkan pembangunan peradaban di bawah panji negara Madinah.
Maulid Nabi Muhammad SAW sejatinya merupakan produk kebudayaan Islam yang telah mentradisi selama ratusan tahun. Sebagai produk kebudayaan tentu menjadi kewajaran jika ada perbedaan, baik konsep, metode maupun praktik atau prosesinya, tergantung dari tafsir masing-masing pihak. Dari sisi variannya juga sangat banyak yang merupakan bentuk akulturasi dari adat istiadat dan kebudayaan setempat. Demikian pula halnya yang terjadi di Indonesia.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia, merupakan saksi sejarah tentang proses percampuran budaya dan adat istiadat daerah dengan penyebaran Islam di Nusantara. Peringatan maulid pada hakekatnya diharapkan dapat menjadi sarana dakwah, persatuan ummat, ekspresi rasa cinta kepada Rasulullah SAW namun mampu menjawab tantangan zaman dan kekinian untuk kemajuan Islam.
Dengan semangat tersebut, Provinsi DKI Jakarta melalui Jakarta Islamic Centre (JIC) sebagai sebuah Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta dengan visinya Menjadi Pusat Peradaban Islam, memandang bahwa tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Nusantara adalah bentuk ekspresi rasa cinta umat Islam terhadap Rasulullah SAW dan perjuangannya. Peringatan maulid Nabi SAW juga diharapkan untuk mengembangan budaya Islam sehingga menjadi tontonan dan tuntunan. Selanjutnya berkembang menjadi ajang silaturahmi antar suku bangsa dan peradaban yang berbeda. Lebih jauh lagi diharapkan dapat membangun masyarakat yang berperadaban dengan meneladani peri kehidupan Rasulullah SAW.
JIC bersama Pemda Provinsi DKI Jakarta dan pemda provinsi peserta festival menginisiasi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam bentuk Festival Maulid Nusantara (FMN). FMN dilaksanakan di Jakarta mengingat Jakarta sebagai ibukota negara, yang penduduknya berasal dari berbagai komunitas suku bangsa di Indonesia. Melalui FMN diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ruhani setiap individu muslim yang ingin meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SAW sekaligus dapat mengobati kerinduan warga Jakarta yang berasal dari daerah terhadap kampung halamannya.
Pelaksanaan FMN dari tahun ke tahun tidak bisa dipisahkan dengan aspek kesejarahan dan kajian yang mengawalinya. Pada tahun 2004, telah dilaksanakan workshop tentang Maulid Nabi khas Betawi yang diikuti oleh 5 wilayah Kotamadya di Jakarta dan telah dilakukan pembakuan Prosesi Maulid Nabi Khas Betawi. Tahun 2005, dilaksanakan Peringatan Maulid Nabi Khas Betawi dengan ritual yang khas yaitu pagelaran seni, pembacaan rawi maulid khas Betawi, tabligh akbar dan makan nasi kebuli bersama yang merupakan jamuan Gubernur Prov. DKI Jakarta bagi warga Jakarta. Selanjutnya pada tahun 2006 yang bertepatan dengan 1427 H, JIC menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi SAW dalam bentuk festival maulid dengan melibatkan beberapa provinsi di Indonesia. Event perdana FMN I – 1427 H diikuti oleh 6 provinsi, FMN II tahun 2007 – 1428 H diikuti oleh 14 provinsi, sedangkan FMN III – 1429 H sebagai peningkatan dari penyelenggaraan sebelumnya diikuti oleh 16 provinsi.
Penyelenggaraan FMN tahun 2009 adalah yang keempat namun yang pertama kali dilaksanakan di luar Jakarta. FMN tidak lagi menjadi otoritas inisiatornya, dalam hal ini Jakarta Islamic Centre, namun sudah menjadi nafas budaya Islam Nusantara. Bahkan peran FMN semakin menguat, karena digandengkan dengan semangat pembangunan daerah. Hal ini pula yang menyemangati provinsi-provinsi lain untuk berlomba-lomba melaksanakan event FMN di daerah masing-masing. Jika pada tahun 2010, Provinsi Sulawesi Tengah bersuka cita menjadi tuan rumah FMN V 2010, maka Provinsi Nusa Tenggara Barat telah berazam dan mentargetkan bahwa mereka akan melaksanakan FMN VI 2011 lima kali lebih sukses dari penyelenggaraan FMN V 2010 di Palu.
Semoga maulid dapat menjadi tonggak menuju perubahan umat. Terlebih dengan posisi Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, diharapkan mampu menunjukkan peran strategisnya dalam pembangunan spiritual masyarakat ke arah yang lebih baik dengan cara-cara yang rahmah dan damai melalui pengembangan keilmuan untuk kebangkitan peradaban Islam.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 322 Trackback(0)
Comments (0)
![]() |
| Last Updated ( Monday, 19 April 2010 11:15 ) |
|
|
|
|
|
|
|






