KAIRO--Setelah memutuskan untuk membangun tembok baja di sepanjang perbatasan Jalur Gaza untuk menghalangi warga Palestina menggali terowongan sebagai jalur suplai bahan kebutuhan pokok mereka, Mesir kini mulai membangun pagar elektronik di Rafah (Mesir). Mengutip sumber-sumber terpercaya, sebuah koran Mesir mengatakan, pihak berwenang Mesir telah memulai membangun pagar elektronik di sekitar kota Rafah di Mesir untuk mengurangi masuknya barang-barang dari kota perbatasan sebagai persiapan untuk dibawa selanjutnya ke Jalur Gaza.
INFO PALESTINA
Koran Mesir "asy Sya’b" edisi Sabtu (26/12) menyebutkan bahwa pagar keamanan yang terhubung dengan listrik akan membuat kota Rafah di Mesir, terisolasi dari Semenanjung Sinai. Koran ini menambahkan bahwa pasukan Mesir bertekad membangun tiga pintu gerbang di dalam pagar keamanan yang dibangun antara kota Rafah di Mesir dan desa al Masurah yang terletak sejauh 30 km dari kota Arish, ibu kota Semenanjung Sinai. ip/ahi/republika Mesir Akui akan Bangun Tembok Baja di Perbatasan Gaza INFO PALESTINA KAIRO--Untuk pertama kalinya, secara resmi pemerintah Mesir mengakui berniat membangun tembok baja di bawah tanah sepanjang perbatasannya dengan Jalur Gaza. Hal itu disampaikan oleh Menlu Mesir, Ahmad Abul Ghaith kemarin Jumat (18/12) bahwa, merupakan hak Mesir menerapkan kekuasaannya di perbatasannya dengan cara apapun. Dalam wawancara dengan majalah Mesir “Al-Ahram Arabi†yang terbit Sabtu (19/12), Abul Ghaith menegaskan, masalah pembangunan tembok, perangkat pengintai dan alat penyadap sering dibicarakan. “Yang penting adalah Mesir harus dijaga†tegasnya. “Siapa yang bilang bahwa Mesir akan menerapkan kekuasaannya di perbatasan dengan tembok baja tersebut, maka kami tegaskan berita itu benar sepenuhnya†aku Abul Ghaith. Kairo sendiri mengalami berbagai kritikan menyusul isu pembangunan tembok baja itu. Sejumlah pihak termasuk parlemen Mesir dan organisasi HAM disana mengecam niat negeri Piramida itu. Sebab jika terjadi itu hanya akan menambah derita bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza dan yang mengambil keuntungan satu-satunya adalah Israel. Sebab 60% ekonomi di Jalur Gaza mengandalkan terowongan bawah tanah. Seorang aktivis HAM Mesir, Hafidl Abu Sa’dah mengkritik kecenderungan Kairo membangun tembok baja di wilayah perbatasannya dengan Jalur Gaza. Ia menilai langkah ini bertentangan dengan kewajiban Mesir yang seharusnya dilakukan terhadap rakyat Palestina. Ia menyerukan Mesir agar bekerja membebaskan Jalur Gaza dari blokade dan menjamin perlintasan yang aman bagi orang, bahan makanan dan obat-obatan yang diperlukan, bukan malah membangun tembok baja. Dalam pernyataan persnya, Sekjen Organisasi HAM Mesir menegaskan pihaknya sangat menyesalkan kecenderungan Kairo membangun tembok rasial bagi Gaza, alih-alih membebaskannya dari blokade. “Hingga sekarang kami beum mendapatkan kepastian Mesir akan membangun tembok rasial bagi Gaza. Pemerintah Mesir tidak membenarkan dan tidak menampik. Kami sedang membutuhkan sikap resmi mesir soal pembangunan tembok yang meresahkan itu". "Saya tidak yakin Mesir membutuhkan tembok seperti itu untuk membatasinya dengan Gaza. Sebaliknya kami membutuhkan untuk membebaskan Jalur Gaza dari blokade bukan sebalik ikut memblokade. Itu sungguh sangat menggelisahkan pikiran kami†tegasnya," tambahnya. ip/ahi
Trackback(0)
 |